Fakta Mengejutkan: Kenapa Industri Makanan Masih Setia pada Plastik & Aluminium Foil?

Fakta Mengejutkan: Kenapa Industri Makanan Masih Setia pada Plastik & Aluminium Foil? – Jika Anda memperhatikan beragam produk makanan di minimarket, supermarket, atau toko kelontong, Anda akan melihat satu pola yang sama: hampir semuanya masih dikemas dengan plastik fleksibel atau aluminium foil.

Fakta Mengejutkan: Kenapa Industri Makanan Masih Setia pada Plastik & Aluminium Foil?

Mulai dari kopi sachet, bumbu instan, mie, snack, minuman bubuk, hingga makanan bayi semuanya menggunakan jenis kemasan fleksibel. Padahal, sekarang sudah banyak kampanye besar tentang pentingnya mengurangi sampah plastik dan mencari kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Mungkin Anda bertanya-tanya: “Kenapa sih produsen makanan tidak mengganti kemasan mereka dengan yang lebih eco-friendly? Kan sekarang sudah ada kemasan kertas, bioplastik, atau material alternatif lainnya.” Pertanyaannya sangat wajar, dan banyak orang memang menganggap produsen enggan berubah karena alasan biaya saja. Tapi ternyata faktanya tidak sesederhana itu.

Dalam artikel ini, Anda akan menemukan fakta mengejutkan, alasan teknis, dan realitas industri yang membuat para produsen makanan masih bertahan menggunakan plastik fleksibel dan aluminium foil. Bukan karena mereka tidak peduli lingkungan, tetapi karena teknologi kemasan alternatif memang belum bisa menggantikan fungsi vital yang diberikan oleh plastik dan foil.

Anda akan melihat alasan yang mungkin selama ini jarang dibahas, bahkan oleh para pelaku industri sendiri.

1. Plastik & Aluminium Foil Punya Barrier Terbaik untuk Makanan Sensitif

Alasan pertama ini adalah yang paling penting. Produsen makanan harus memastikan produk mereka aman, higienis, dan tidak cepat rusak. Di sinilah plastik dan aluminium foil menang telak.

Apa itu barrier?

Barrier adalah kemampuan kemasan untuk menahan:

  • Oksigen
  • Uap air
  • Cahaya
  • Mikroba
  • Aroma keluar/masuk

Kalau barrier-nya jelek, produk bisa cepat rusak. Contohnya:

  • Kopi jadi apek
  • Snack jadi melempem
  • Bumbu instan menggumpal
  • Susu bubuk berubah aroma
  • Produk berminyak menjadi tengik

Plastik fleksibel multilayer dan aluminium foil menawarkan perlindungan maksimal yang sampai sekarang belum ada tandingannya.

Lalu bagaimana dengan kemasan kertas atau bioplastik?

Sayangnya:

  • Kertas hanya kuat kalau dilapisi plastik lagi.
  • Bioplastik (PLA, PHA, cassava-based) lebih mudah rusak oleh panas dan kelembapan.
  • Paper-based packaging tidak cocok untuk makanan berminyak atau produk sensitif oksigen.

Inilah alasan teknis kenapa plastik dan foil masih memimpin.

2. Menjamin Umur Simpan Produk Lebih Panjang

Ketika produk makanan dikirim ke berbagai daerah, yang dihadapi bukan hanya jarak, tapi juga:

  • Suhu panas selama perjalanan
  • Gudang lembap
  • Guncangan distribusi
  • Waktu penyimpanan di rak toko

Produsen ingin produknya bertahan selama mungkin. Plastik multilayer dan aluminium foil bisa memberi masa simpan hingga 1–3 tahun, tergantung produknya.

Contohnya:

  • Kopi sachet: 12–24 bulan
  • Mie instan & bumbu: 18–24 bulan
  • Susu bubuk: 12–18 bulan
  • Snack ringan: 9–12 bulan
  • Makanan bayi: 12–18 bulan

Bayangkan jika kemasan diganti menjadi kertas biasa atau bioplastik yang mudah melunak, bocor, atau kurang barrier. Produk bisa rusak bahkan sebelum mencapai toko. Ini bukan hanya kerugian produsen, tapi juga menciptakan food waste yang lebih besar.

3. Plastik & Foil Lebih Ekonomis untuk Produksi Massal

Mari bicara soal biaya.

Untuk skala industri, biaya kemasan sangat menentukan harga jual.
Saat ini:

  • Plastik fleksibel = Murah, mudah dibentuk, produksi cepat
  • Aluminium foil = Stabil, fleksibel, barrier tinggi

Sementara itu, kemasan ramah lingkungan:

  • Bioplastik = 2–5x lebih mahal
  • Kertas + coating bio = Mahal dan kualitas tidak stabil
  • Material serat alami = Terbatas dan sulit proses sealing
  • PLA/PHA = Tidak cocok untuk produk berminyak dan panas

Produsen besar memproduksi jutaan kemasan tiap bulan. Selisih Rp 50–100 per kemasan bisa membuat biaya naik miliaran rupiah.

Jadi bukan semata-mata soal “maunya murah”, tapi soal kelayakan bisnis.

4. Penggantian Kemasan Bisa Mengubah Mesin, Proses, dan Izin BPOM

Ganti kemasan bukan sekadar pilih bahan baru lalu pakai. Ada konsekuensi besar:

a. Mesin produksi harus diubah

Kemasan alternatif sering:

  • tidak cocok dengan mesin sealer
  • perlu suhu sealing berbeda
  • kurang kuat saat pengisian otomatis
  • lebih mudah robek saat dikemas cepat

Perubahan mesin = biaya besar.

b. Harus uji stabilitas ulang

Produsen harus memastikan:

  • produk tidak berubah rasa
  • tidak rusak
  • aman setelah beberapa bulan

Ini butuh waktu dan biaya.

c. Harus urus ulang izin BPOM

Produk dengan kemasan baru harus:

  • diuji mikrobiologi
  • diuji organoleptik
  • diuji shelf life
  • diverifikasi ulang keamanan bahan kemasan

Semua ini bisa memakan waktu 6–18 bulan.

Jadi wajar jika produsen tidak bisa tiba-tiba berpindah ke kemasan baru.

5. Belum Ada Teknologi Alternatif yang Bisa Bersanding dengan Multilayer

Kemasan fleksibel biasanya terdiri dari beberapa lapisan:

  • PET
  • OPP
  • Nylon
  • Aluminium foil
  • LLDPE

Setiap lapisan punya fungsi:

  • menahan uap air
  • menahan oksigen
  • memberi kekuatan
  • memberi perlindungan cahaya

Teknologi ramah lingkungan yang ada saat ini belum mampu menggantikan semua fungsi itu secara bersamaan.

Contohnya:

  • Kertas + coating = tidak tahan minyak
  • PLA = tidak tahan panas
  • Material serat = mudah robek
  • Bioplastik = umur simpan pendek

Produsen makanan tidak berani ambil risiko kalau hasilnya membuat produk cepat rusak.

6. Standar Industri dan Regulasi Menuntut Keamanan Ekstra

Keamanan pangan adalah prioritas nomor satu. Regulasi seperti:

  • BPOM
  • ISO 22000
  • FSSC 22000
  • HACCP
  • Halal MUI

menuntut material kemasan yang sudah teruji. Plastik dan aluminium foil telah memenuhi syarat itu selama puluhan tahun. Sementara material baru perlu masa panjang untuk pembuktian.

Produsen makanan tidak ingin mengambil risiko hukum atau reputasi.

7. Konsumen Masih Lebih Memilih Kemasan yang Kokoh & Kedap

Fakta menarik:

Meski masyarakat ingin ramah lingkungan, sebagian besar konsumen tetap memilih:

  • kemasan kuat
  • kedap udara
  • modern
  • glossy
  • ringan
  • tidak mudah sobek

Bahkan banyak survei menyebut:

70% konsumen lebih memilih produk yang kemasannya terlihat premium,
dibanding produk yang hanya mengedepankan eco-friendly.

Ini membuat produsen semakin sulit meninggalkan kemasan plastik dan foil.

Kesimpulan: Industri Tidak Diam, Hanya Menunggu Teknologi yang Benar-Benar Siap

Setelah memahami semua fakta di atas, Anda mungkin menyadari bahwa:

Industri makanan bukan tidak mau berubah.
Hanya saja teknologi kemasan ramah lingkungan saat ini belum siap menggantikan plastik dan aluminium foil secara penuh.

Produsen ingin:

  • produk aman
  • berkualitas
  • tahan lama
  • tidak mahal
  • tetap memenuhi regulasi
  • tidak menimbulkan food waste

Semuanya harus terpenuhi sebelum mengganti kemasan.

Dan sampai saat ini, hanya plastik fleksibel dan aluminium foil yang mampu memenuhi semua persyaratan tersebut sekaligus.

Perubahan memang sedang berproses, tapi butuh waktu agar teknologi kemasan benar-benar mampu menggantikan standar lama.

Untuk hasil yang maksimal untuk industri cetak Anda gunakan doctor blade berkualitas, dan gunakan alat ukur warna untuk mengecek warna secara konsisten di kemasn Anda.

error: Content is protected !!