7 Kesalahan Quality Control yang Menyebabkan Produk Reject

Mengapa Produk Reject Masih Bisa Lolos dari Quality Control? – Dalam industri flexible packaging, produk reject tidak selalu disebabkan oleh kerusakan mesin yang besar. Masalah terkadang bermula dari hal yang terlihat sederhana: viscosity tinta tidak diperiksa secara konsisten, permukaan film tidak memenuhi persyaratan adhesi, atau hasil sealing hanya diperiksa secara visual.

7 Kesalahan Quality Control yang Menyebabkan Produk Reject

Ketika produk sudah masuk tahap slitting, pouch making, atau bahkan pengiriman, masalah tersebut dapat menjadi lebih mahal untuk ditangani karena material, waktu produksi, dan biaya proses lanjutan sudah terpakai.

Situasi ini menunjukkan bahwa quality control (QC) bukan sekadar aktivitas memeriksa produk di akhir proses. QC harus terhubung dengan pengendalian bahan baku, parameter mesin, metode pengujian, dan pencatatan hasil produksi.

Kesalahan quality control dapat membuat defect tidak terdeteksi, penyebab masalah tidak ditemukan, atau produk yang tidak memenuhi spesifikasi tetap diteruskan ke proses berikutnya. Berikut tujuh kesalahan yang perlu diperhatikan perusahaan printing dan packaging agar risiko produk reject dapat dikurangi.

Apa Itu Quality Control dalam Industri Printing dan Packaging?

Quality control adalah kegiatan pemeriksaan dan pengujian untuk memastikan material, proses, dan produk memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Dalam industri printing dan flexible packaging, pemeriksaan dapat dilakukan sejak material diterima, selama proses produksi, hingga produk akhir siap dikirim.

Parameter QC bergantung pada jenis produk dan persyaratan pelanggan. Pada film hasil printing, pemeriksaan dapat mencakup warna, register, garis cetak, adhesi tinta, dan kondisi permukaan. Pada kemasan yang telah melalui proses converting, pemeriksaan dapat meliputi dimensi, kekuatan seal, kebocoran, serta kondisi fisik produk.

Penting untuk membedakan QC dengan quality assurance (QA). QC berfokus pada pemeriksaan dan pengujian untuk menemukan ketidaksesuaian, sedangkan QA lebih luas, yaitu membangun sistem dan prosedur agar ketidaksesuaian dapat dicegah secara konsisten.

1. Hanya Mengandalkan Pemeriksaan Visual

Pemeriksaan visual memang penting, tetapi tidak cukup untuk semua jenis defect. Operator dapat melihat apakah warna tampak berbeda, terdapat garis pada hasil cetak, atau kemasan terlihat rusak. Namun, sejumlah masalah tidak dapat dipastikan hanya melalui pengamatan mata.

Contohnya adalah adhesi tinta yang lemah, kebocoran mikro pada seal, atau perubahan parameter tinta yang belum terlihat jelas pada produk. Produk dapat terlihat baik, tetapi gagal ketika menjalani pengujian yang sesuai dengan persyaratan pelanggan.

Cara memperbaikinya

  • Tentukan parameter yang membutuhkan pengujian khusus. Untuk setiap jenis produk, identifikasi karakteristik yang tidak dapat diverifikasi hanya dengan pemeriksaan visual. Pengujian harus mengikuti spesifikasi, metode yang relevan, dan tingkat risiko produk.
  • Gunakan alat ukur yang sesuai. Alat bantu dapat berupa alat pengukur warna, alat pengujian adhesi, Zahn Cup untuk pemeriksaan viscosity, atau perangkat pengujian kebocoran seal sesuai metode yang digunakan. Setiap alat memiliki fungsi berbeda dan tidak boleh dipakai untuk menggantikan pengujian lain yang tidak sejenis.
  • Tetapkan kriteria penerimaan. QC harus mengetahui batas yang dapat diterima dan kondisi yang mengharuskan produk ditahan. Tanpa kriteria yang jelas, keputusan antarpemeriksa dapat berbeda meskipun memeriksa produk yang sama.

Pemeriksaan visual sebaiknya menjadi bagian dari sistem QC, bukan satu-satunya dasar untuk menyatakan produk layak dikirim.

2. Tidak Memeriksa Kondisi Material Sebelum Produksi

Material yang diterima dari pemasok belum tentu selalu berada dalam kondisi yang sesuai untuk setiap pekerjaan. Perbedaan ketebalan, kondisi permukaan, kontaminasi, penyimpanan, atau karakteristik film dapat memengaruhi proses printing dan converting.

Pada film plastik, misalnya, karakteristik permukaan berpengaruh terhadap pembasahan dan adhesi tinta. Jika energi permukaan tidak sesuai dengan kebutuhan proses, tinta dapat mengalami masalah adhesi meskipun parameter mesin sudah diatur dengan benar.

Hal yang perlu diperiksa

  • Spesifikasi dan identitas material. Pastikan jenis film, ketebalan, lebar, nomor batch, serta spesifikasi lainnya sesuai dengan pesanan produksi. Ketidaksesuaian material sejak awal dapat menimbulkan masalah yang baru diketahui setelah material diproses.
  • Kondisi permukaan film. Jika aplikasi membutuhkan karakteristik permukaan tertentu, lakukan pemeriksaan sesuai prosedur, termasuk pengujian dyne level apabila relevan. Hasilnya perlu dibandingkan dengan persyaratan material dan tinta yang digunakan.
  • Kondisi penyimpanan. Periksa apakah material terlindung dari debu, kelembapan, panas, atau kontaminasi lain sesuai kebutuhan penyimpanannya. Kondisi penyimpanan yang tidak tepat dapat memengaruhi karakteristik material sebelum digunakan.

Insight industri: ketika adhesi tinta bermasalah, jangan langsung menyimpulkan bahwa formulasi tinta salah. Telusuri juga asal material, hasil inspeksi saat penerimaan, dan kondisi penyimpanannya. Data tersebut membantu membedakan masalah bahan baku dari masalah proses printing.

3. Tidak Mengendalikan Viscosity Tinta Secara Konsisten

Viscosity atau viskositas merupakan ukuran hambatan cairan untuk mengalir. Dalam proses rotogravure dan flexographic printing, viscosity tinta merupakan salah satu parameter yang dapat memengaruhi transfer tinta dan karakter hasil cetak.

Jika viscosity berubah selama produksi, intensitas warna atau perilaku tinta dapat ikut berubah. Namun, perubahan warna tidak selalu disebabkan oleh viscosity. Kondisi doctor blade, gravure cylinder atau anilox, temperatur, kecepatan mesin, dan karakteristik substrat juga perlu diperiksa.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menambahkan solvent berdasarkan perkiraan. Penambahan solvent tanpa pengukuran yang konsisten dapat membuat kondisi tinta semakin sulit dikendalikan. Koreksi sebaiknya mengikuti prosedur yang ditetapkan, kemudian dilakukan pengukuran ulang untuk memastikan hasilnya sesuai.
  • Tidak mencatat hasil pengukuran. Tanpa catatan viscosity, temperatur, waktu pemeriksaan, dan tindakan koreksi, tim QC akan kesulitan mengetahui kapan perubahan mulai terjadi. Catatan proses membantu mengidentifikasi pola masalah dan mengevaluasi tindakan koreksi.
  • Menggunakan alat tanpa prosedur yang konsisten. Zahn Cup dapat membantu memeriksa viscosity berdasarkan waktu alir tinta, tetapi tipe cup, kondisi sampel, dan teknik pengukuran harus sesuai metode yang ditetapkan. Angka dalam detik tidak boleh dianggap sebagai standar universal untuk semua jenis tinta.

Jika proses membutuhkan pengendalian viscosity yang lebih konsisten, perusahaan dapat mengevaluasi penggunaan viscosity controller yang sesuai dengan sistem mesin. Zahn Cup dan viscosity controller memiliki fungsi berbeda: yang pertama membantu pemeriksaan, sedangkan yang kedua membantu pengendalian pada sistem yang mendukungnya.

4. Mengabaikan Kondisi Doctor Blade dan Gravure Cylinder

Pada mesin rotogravure, doctor blade berfungsi menyapu kelebihan tinta dari permukaan gravure cylinder sehingga tinta yang tertinggal pada sel ukiran dapat ditransfer ke material cetak. Kondisi blade dan cylinder karena itu menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hasil cetak.

Doctor blade yang aus, rusak, tidak sejajar, atau bekerja dengan tekanan yang tidak sesuai dapat menyebabkan penyapuan tinta tidak konsisten. Sementara itu, kontaminasi atau kerusakan pada cylinder juga dapat menimbulkan defect yang serupa.

Apa yang perlu dilakukan QC?

  • Periksa pola defect pada hasil cetak. Garis memanjang, noda, atau perubahan warna dapat menjadi petunjuk awal. Namun, gejala yang terlihat tidak selalu menunjukkan satu penyebab tertentu sehingga perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mesin.
  • Periksa kondisi blade dan pemasangannya. Evaluasi ujung blade, keselarasan, kebersihan holder, dan pengaturan tekanan sesuai prosedur mesin. Hindari langsung meningkatkan tekanan ketika hasil cetak bermasalah karena tindakan tersebut dapat mempercepat keausan.
  • Periksa cylinder dan kebersihan tinta. Jika defect tetap muncul setelah blade diperiksa, evaluasi kondisi permukaan cylinder serta kemungkinan adanya partikel atau kontaminan dalam tinta.

Pemeriksaan yang sistematis membantu mencegah penggantian komponen berulang tanpa menyelesaikan akar masalah. Catatan mengenai defect, waktu kemunculan, dan tindakan koreksi juga dapat membantu tim maintenance dan QC bekerja dengan data yang sama.

5. Tidak Memeriksa Kualitas Seal dan Risiko Kebocoran Kemasan

Pada kemasan fleksibel, kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh hasil cetak. Kemasan juga harus memenuhi persyaratan fungsi, termasuk integritas seal atau sambungan penutupnya.

Seal yang tidak memenuhi spesifikasi dapat menyebabkan kebocoran, penurunan perlindungan produk, atau keluhan pelanggan. Pemeriksaan visual saja mungkin tidak cukup untuk mendeteksi semua kebocoran, terutama jika defect tidak terlihat dari luar.

Cara meningkatkan kontrol kualitas seal

  • Tetapkan metode uji sesuai jenis kemasan. Metode pengujian dapat berbeda berdasarkan struktur material, bentuk kemasan, dan persyaratan pelanggan. Pilih metode yang sesuai, misalnya pengujian kebocoran atau kekuatan seal yang relevan.
  • Periksa parameter sealing. Temperatur, tekanan, waktu kontak, kondisi permukaan, dan karakteristik material dapat memengaruhi hasil sealing. Jika ditemukan kebocoran, evaluasi parameter tersebut sebelum menyimpulkan bahwa bahan kemasan merupakan satu-satunya penyebab.
  • Lakukan pengujian pada interval yang ditetapkan. Pemeriksaan pada awal produksi saja tidak selalu cukup untuk pekerjaan panjang. Frekuensi pengujian perlu ditentukan berdasarkan risiko, spesifikasi pelanggan, dan prosedur kontrol perusahaan.

Untuk aplikasi yang sesuai, produk pemeriksaan seperti Red Seal Checker atau AGELESS Seal Check dapat membantu mengidentifikasi indikasi kebocoran seal berdasarkan petunjuk penggunaannya. Produk tersebut tidak menggantikan semua metode pengujian integritas kemasan, sehingga metode yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan dan standar yang berlaku.

6. Menggunakan Alat Ukur Tanpa Memastikan Kondisinya

Hasil pengukuran QC hanya berguna jika alat yang digunakan sesuai, berfungsi dengan baik, dan dipakai menggunakan metode yang benar. Alat yang rusak, tidak terawat, atau tidak diverifikasi sesuai prosedur dapat menghasilkan keputusan yang keliru.

Contohnya, hasil pengukuran viscosity dapat berbeda akibat tipe cup atau teknik operator. Demikian pula, alat pengukur warna atau alat pengujian lainnya dapat memberikan hasil yang tidak dapat diandalkan jika kondisinya tidak sesuai.

Langkah yang perlu diterapkan

  • Buat daftar alat ukur. Catat identitas alat, lokasi penggunaan, status pemeriksaan, dan jadwal kalibrasi atau verifikasi sesuai kebutuhan. Daftar ini membantu memastikan alat yang digunakan berada dalam status yang dapat diterima.
  • Periksa kondisi alat sebelum digunakan. Pastikan alat bersih, tidak rusak, dan dapat berfungsi sesuai petunjuk. Untuk alat yang membutuhkan pemeriksaan rutin, ikuti interval dan metode yang telah ditetapkan.
  • Standarkan cara penggunaan. Operator harus memahami cara mengambil sampel, melakukan pengukuran, mencatat hasil, dan menangani hasil yang berada di luar batas. Pelatihan membantu mengurangi variasi yang muncul akibat perbedaan teknik.

Jika ditemukan alat ukur yang memberikan hasil meragukan, evaluasi kembali hasil inspeksi yang sebelumnya dilakukan menggunakan alat tersebut. Langkah ini penting untuk memastikan keputusan penerimaan produk tetap dapat dipertanggungjawabkan.

7. Tidak Menindaklanjuti Data Reject dan Mengulang Kesalahan yang Sama

Kesalahan QC tidak selalu berasal dari kurangnya alat atau pemeriksaan. Dalam beberapa kasus, perusahaan sudah memiliki data reject, tetapi data tersebut tidak dianalisis untuk menemukan pola penyebabnya.

Jika setiap produk reject hanya dipisahkan tanpa investigasi, perusahaan kehilangan kesempatan untuk mencegah masalah serupa pada produksi berikutnya. Defect yang sama dapat terus berulang, sementara tim hanya berfokus memperbaiki produk yang sudah terlanjur bermasalah.

Cara mencegah pengulangan defect

  • Kelompokkan defect berdasarkan jenisnya. Pisahkan data berdasarkan kategori seperti warna tidak sesuai, garis cetak, adhesi buruk, dimensi di luar spesifikasi, atau seal bocor. Pengelompokan membantu tim melihat masalah yang paling sering terjadi.
  • Cari akar penyebab, bukan hanya gejalanya. Gunakan data produksi, hasil pengukuran, histori maintenance, dan informasi material untuk menelusuri kemungkinan penyebab. Hindari menyimpulkan penyebab hanya berdasarkan satu gejala.
  • Verifikasi efektivitas tindakan koreksi. Setelah perbaikan dilakukan, pantau produksi berikutnya untuk memastikan masalah tidak berulang. Jika defect masih muncul, evaluasi kembali dugaan penyebab dan tindakan yang sudah diterapkan.

Insight industri: data reject akan lebih berguna jika dikaitkan dengan nomor batch material, mesin, waktu produksi, operator, parameter proses, dan tindakan koreksi. Dengan cara ini, tim dapat membedakan masalah yang bersifat insidental dari masalah yang berulang pada kondisi tertentu.

Contoh Kasus: Produk Reject Setelah Proses Printing

Sebuah pekerjaan flexible packaging menunjukkan warna yang berubah di tengah produksi dan beberapa area memiliki garis memanjang. Operator menambahkan solvent, kemudian meningkatkan tekanan doctor blade. Warna sempat membaik, tetapi garis tetap muncul.

Jika hanya mengandalkan koreksi tersebut, perusahaan berisiko menghabiskan waktu tanpa menemukan penyebab utama. Pendekatan yang lebih baik adalah memisahkan pemeriksaan berdasarkan parameter.

Pertama, ukur viscosity dan bandingkan dengan standar pekerjaan. Kedua, periksa kondisi doctor blade, pemasangan, serta kemungkinan kontaminasi pada tinta atau cylinder. Ketiga, periksa kondisi film apabila terdapat indikasi masalah adhesi atau karakteristik permukaan. Terakhir, dokumentasikan hasil pemeriksaan dan tindakan koreksi.

Contoh ini menunjukkan bahwa satu gejala dapat memiliki beberapa kemungkinan penyebab. QC dan maintenance perlu bekerja berdasarkan data agar perbaikan tidak berhenti pada perubahan setting yang hanya memberikan hasil sementara.

Cara Menyusun Sistem QC agar Produk Reject Berkurang

Mengurangi reject membutuhkan sistem yang konsisten dari penerimaan material hingga produk akhir. Perusahaan dapat memulainya dengan menetapkan spesifikasi yang jelas, menentukan titik pemeriksaan kritis, menyediakan alat yang sesuai, dan memastikan hasil pengukuran dicatat dengan benar.

Prioritaskan defect berdasarkan tingkat risiko terhadap pelanggan, frekuensi kemunculan, dan dampaknya terhadap proses. Pastikan juga ada prosedur untuk menahan produk yang tidak memenuhi spesifikasi, melakukan investigasi, dan menyetujui produk sebelum dilepas ke tahap berikutnya.

Evaluasi data reject secara berkala untuk menentukan apakah tindakan pencegahan benar-benar efektif. Tujuannya bukan sekadar menurunkan angka reject, tetapi memastikan produk memenuhi persyaratan dan masalah yang sama tidak terus berulang.

FAQ tentang Kesalahan Quality Control

1. Apa penyebab utama produk reject dalam industri printing?

Penyebabnya dapat berupa material yang tidak sesuai, viscosity tinta tidak terkontrol, masalah doctor blade atau cylinder, defect sealing, kesalahan pengukuran, dan proses QC yang tidak konsisten. Penyebab sebenarnya perlu ditentukan melalui pemeriksaan berdasarkan gejala dan data produksi.

2. Apakah pemeriksaan visual cukup untuk quality control?

Tidak untuk semua jenis defect. Pemeriksaan visual penting, tetapi karakteristik seperti viscosity, adhesi, kekuatan seal, atau kebocoran tertentu mungkin memerlukan metode pengujian khusus.

3. Bagaimana cara mengurangi reject akibat hasil cetak tidak konsisten?

Mulailah dengan menetapkan standar proses, memeriksa material, mengukur viscosity secara konsisten, mengevaluasi doctor blade dan cylinder, serta mencatat hasil produksi. Jika defect muncul, telusuri penyebabnya sebelum mengubah parameter mesin.

4. Mengapa kalibrasi atau verifikasi alat ukur penting?

Alat ukur yang tidak berfungsi sesuai persyaratan dapat menghasilkan data yang keliru. Kondisi tersebut berisiko membuat produk yang tidak memenuhi spesifikasi dinyatakan lolos atau produk yang sebenarnya memenuhi spesifikasi ditolak.

5. Apa yang harus dilakukan ketika produk reject ditemukan?

Pisahkan atau tahan produk sesuai prosedur, identifikasi jenis ketidaksesuaian, periksa data produksi, tentukan akar penyebab, dan dokumentasikan tindakan koreksi. Produk hanya boleh dilepas setelah memenuhi kriteria penerimaan yang berlaku.

Kesimpulan

Tujuh kesalahan quality control yang perlu diwaspadai meliputi ketergantungan pada pemeriksaan visual, kurangnya inspeksi material, pengendalian viscosity yang tidak konsisten, pengabaian doctor blade dan cylinder, pemeriksaan seal yang tidak memadai, penggunaan alat ukur tanpa memastikan kondisinya, serta tidak menindaklanjuti data reject.

Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan perlu menghubungkan pemeriksaan material, pengendalian proses, pengujian produk, dan analisis data reject dalam satu sistem yang konsisten. Dengan begitu, QC tidak hanya menemukan produk bermasalah, tetapi juga membantu mencegah penyebabnya terulang.

Jika Anda sedang mencari Zahn Cup, Viscosity Controller, doctor blade, ink pump, atau perangkat pemeriksaan seal untuk mendukung kontrol kualitas printing dan flexible packaging, Rotogravure Indonesia dapat menjadi mitra diskusi untuk mengidentifikasi kebutuhan sesuai aplikasi dan spesifikasi mesin Anda.

Sampaikan jenis produk, gejala defect, dan parameter yang ingin dikendalikan agar pemilihan perangkat dapat diarahkan pada kebutuhan proses yang tepat.

error: Content is protected !!