Solusi Anti Set-Off untuk Kertas Art Paper, Ivory, dan Duplex – Kalau Anda pernah melihat hasil cetak yang “nempel” saat ditumpuk tinta pindah ke lembar lain, warna jadi kotor, atau permukaan terlihat seperti ada bayangan, Anda tidak perlu bingung.

Set-off adalah masalah klasik di dunia printing, tetapi ironisnya justru sering muncul di produksi modern yang serba cepat dan targetnya ketat. Saat order harus selesai cepat, mesin jalan kencang, dan tumpukan kertas makin tinggi, risiko set-off bisa meningkat tanpa Anda sadari.
Yang bikin set-off terasa “menyebalkan” adalah dampaknya tidak main-main. Sekali tinta transfer, Anda bisa kehilangan kualitas, waktu, dan biaya sekaligus. Rework, potong ulang, sortir manual, sampai komplain pelanggan semuanya bisa terjadi hanya karena satu hal: tinta belum cukup “set” atau kering, tapi kertas sudah keburu ditumpuk dan diproses tahap berikutnya.
Kabar baiknya, Anda bisa mengendalikan masalah ini dengan langkah yang tepat apalagi jika Anda sering cetak di media populer seperti Art Paper, Ivory, dan Duplex. Masing-masing punya karakter berbeda, jadi solusi anti set-off juga perlu disesuaikan.
Kali ini RotogravureIndonesia akan bantu Anda memahami penyebab set-off pada ketiga jenis kertas tersebut, lalu memberi solusi praktis yang bisa langsung Anda terapkan di produksi.
Apa Itu Set-Off dan Kenapa Sering Terjadi?
Set-off adalah kondisi ketika tinta dari lembar cetak yang masih “basah” atau belum cukup mengikat, berpindah ke sisi belakang lembar lain saat ditumpuk. Hasilnya bisa berupa:
- warna pindah (transfer),
- permukaan jadi kotor dan kusam,
- muncul ghosting/bayangan,
- lembar menempel satu sama lain,
- finishing (laminasi/UV/emboss) bermasalah karena permukaan tidak bersih.
Set-off biasanya dipicu gabungan faktor: jenis tinta, ketebalan tinta, kecepatan mesin, suhu-kelembapan ruang, tekanan delivery, jenis kertas, sampai setting powder.
Kenali Karakter Art Paper, Ivory, dan Duplex (Ini Kuncinya)
Sebelum bicara solusi, Anda perlu tahu “medan tempurnya”.
1) Art Paper (coated)
Art Paper punya coating yang halus dan relatif tertutup. Ini bagus untuk ketajaman warna, tapi tantangannya:
- penyerapan tinta lebih lambat,
- tinta cenderung “duduk” di permukaan,
- risiko set-off meningkat saat tinta tebal atau mesin cepat.
2) Ivory (coated satu sisi, untuk kemasan)
Ivory biasanya punya satu sisi lebih halus (untuk cetak utama) dan sisi belakang lebih kasar/abu. Tantangannya:
- sisi coated rawan set-off seperti Art Paper,
- pekerjaan kemasan sering membutuhkan warna solid tebal,
- banyak proses lanjut (creasing, die-cut, lem) yang menuntut permukaan bersih.
3) Duplex (coated satu sisi, belakang abu-abu)
Duplex sering dipakai untuk box/kemasan. Tantangannya:
- permukaan coated bisa licin dan memperlambat set,
- area solid besar (branding kemasan) sering memaksa tinta tebal,
- tumpukan produksi biasanya tinggi → tekanan antarlapis meningkat.
Kesimpulannya: ketiganya punya sisi coated yang membuat tinta lebih lama set, jadi kontrol set-off perlu lebih disiplin.
Penyebab Set-Off yang Paling Sering “Tidak Disadari”
Berikut sumber masalah yang sering terjadi di lapangan:
- Tinta terlalu tebal (over-inking)
Solid hitam, warna tua, atau coverage besar sering bikin operator menaikkan tinta. Akibatnya, tinta lama set dan gampang transfer. - Setting air/fountain solution tidak stabil
Kebanyakan air bisa bikin tinta emulsifikasi → kering makin lama. Kekurangan air juga bisa bikin scumming lalu operator “ngejar” dengan tinta lebih banyak. - Kecepatan mesin tinggi tanpa penyesuaian delivery
Mesin jalan cepat, tumpukan langsung tinggi, tapi pengeringan belum cukup. - Ventilasi/temperatur/kelembapan ruang tidak ideal
Ruang lembap memperlambat drying. Ini sering kejadian terutama saat musim hujan. - Powder tidak tepat (ukuran partikel atau dosis)
Powder terlalu halus bisa kurang “mengangkat” jarak antarlapis, terlalu kasar bisa mengganggu finishing.
Solusi Anti Set-Off yang Efektif untuk Art Paper, Ivory, dan Duplex
1) Gunakan Spray Powder Anti Set-Off (Dengan Setting yang Benar)
Spray powder bekerja seperti “spacer” mikro: membentuk jarak tipis antarlapis sehingga tinta tidak kontak langsung dengan lembar di atasnya. Tapi ingat: powder bukan sekadar dinyalakan—setting-nya menentukan hasil.
Tips setting powder yang bisa Anda coba:
- Mulai dari dosis rendah-menengah, lalu naikkan bertahap sambil cek hasil tumpukan.
- Untuk coverage tinta tinggi/solid besar: gunakan setting lebih tinggi, tapi tetap terukur.
- Pastikan sebaran powder merata (cek nozzle dan arah semprot).
- Jangan sampai over-powder: bisa bikin permukaan “berdebu”, mengganggu laminasi/UV, dan mempercepat kotor di unit delivery.
Untuk coated seperti Art Paper/Ivory/Duplex: biasanya butuh perhatian lebih pada powder karena tinta lebih lama set.
2) Atur Ketebalan Tinta: Kejar Tajam, Bukan Tebal
Kalau target Anda warna “nendang”, solusi terbaik bukan menebalkan tinta terus-menerus. Anda bisa mengejar hasil dengan cara lebih aman:
- pastikan densitas sesuai standar,
- gunakan tinta yang sesuai karakter coated,
- jaga keseimbangan air-tinta,
- gunakan profil warna/kurva yang tepat (kalau workflow Anda sudah color-managed).
Seringnya, set-off terjadi karena “tinta dikejar” untuk menutup ketidakseimbangan setting lain.
3) Perhatikan Kondisi Ruang Produksi
Ini bagian yang sering dilupakan, padahal sangat menentukan drying:
- jaga kelembapan ruang agar tidak terlalu tinggi,
- pastikan sirkulasi udara baik,
- hindari menumpuk hasil cetak di area lembap atau dekat sumber uap/air.
Kalau Anda punya target kualitas tinggi, kontrol lingkungan adalah “investasi kecil” yang sering menghemat biaya rework besar.
4) Sesuaikan Ukuran Powder dengan Jenis Pekerjaan
Secara praktik, ukuran partikel powder memengaruhi:
- kemampuan mencegah set-off,
- potensi gangguan finishing,
- kebersihan hasil.
Umumnya:
- partikel lebih halus → cocok untuk detail halus dan finishing sensitif, tapi kadang kurang kuat untuk solid tebal,
- partikel lebih besar → lebih efektif untuk pekerjaan heavy ink coverage, tapi harus hati-hati agar tidak mengganggu laminasi/varnish.
Kalau produksi Anda sering campur antara brosur (Art Paper) dan kemasan (Ivory/Duplex), Anda akan lebih aman bila memilih powder yang sesuai kebutuhan paling dominan—atau siapkan dua opsi untuk job yang berbeda.
Strategi Praktis Berdasarkan Jenis Kertas
Art Paper: Fokus pada Pengeringan Permukaan dan Kontrol Powder
Yang sering terjadi di Art Paper adalah tinta “mengkilap” lama dan mudah transfer saat ditumpuk. Strateginya:
- pastikan powder menyebar merata dari awal running,
- hindari over-inking pada area solid,
- turunkan tinggi tumpukan bila perlu,
- cek apakah job butuh jeda sebelum proses lanjut (potong/lipatan).
Ivory: Minimalkan Set-Off agar Proses Lem dan Die-Cut Aman
Pada Ivory, set-off sering “baru kelihatan” saat proses berikutnya: lem tidak nempel sempurna atau permukaan kotor. Strateginya:
- jaga kebersihan permukaan (hindari over-powder),
- pastikan tinta cukup set sebelum masuk finishing,
- gunakan powder yang tidak meninggalkan residu berlebihan.
Duplex: Antisipasi Solid Besar dan Tumpukan Tinggi
Duplex sering dipakai untuk kemasan dengan area solid besar. Strateginya:
- kontrol ketebalan tinta (solid tebal = risiko tinggi),
- gunakan powder yang cukup “angkat” jarak,
- atur tumpukan lebih rendah untuk job riskan,
- pastikan ventilasi baik karena produksi kemasan sering volume besar.
Kenapa Anda Sebaiknya Serius Menangani Set-Off (Bukan Sekadar “Nanti Juga Kering”)
Set-off itu bukan cuma soal tampilan. Dampaknya bisa menyentuh:
- efisiensi produksi (downtime, sortir manual),
- biaya material (waste kertas dan tinta),
- kualitas finishing (laminasi/UV/lem bermasalah),
- reputasi (komplain dan repeat order turun).
Kalau Anda rutin menangani Art Paper, Ivory, dan Duplex, maka anti set-off bukan aksesoris—ini salah satu kunci stabilnya kualitas.
Solusi yang Realistis untuk Produksi Anda
Kalau Anda ingin hasil cetak rapi, tidak nempel, dan minim rework, Anda perlu pendekatan yang lengkap: powder yang tepat, setting yang benar, kontrol tinta-air, manajemen delivery, dan lingkungan produksi yang mendukung. Kabar baiknya, sebagian besar perbaikan bisa Anda lakukan tanpa harus ganti mesin cukup disiplin pada parameter yang paling berpengaruh.