7 Kesalahan Menggunakan Corona Treatment pada Mesin Rotogravure -Di industri flexible packaging, kualitas hasil printing tidak hanya ditentukan oleh tinta, silinder gravure, atau kualitas mesin printing. Ada satu proses yang sering dianggap sederhana, tetapi justru menjadi penentu apakah tinta dapat menempel dengan sempurna pada permukaan film plastik, yaitu Corona Treatment. Sayangnya, masih banyak perusahaan yang hanya menganggap corona treatment sebagai peralatan tambahan tanpa memahami bagaimana proses ini bekerja.

Dalam berbagai kunjungan ke pabrik printing dan converting, kami sering menemukan kasus di mana operator langsung menyalahkan tinta ketika hasil cetak mudah terkelupas atau laminasi gagal. Padahal setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, penyebab utamanya justru berasal dari proses corona treatment yang kurang optimal. Kesalahan kecil dalam pengaturan corona treater dapat berdampak pada meningkatnya reject, pemborosan material, hingga komplain pelanggan.
Mengapa Corona Treatment Sangat Penting?
Material seperti PE, PP, OPP, CPP, maupun berbagai jenis plastic film memiliki karakter permukaan yang relatif rendah sehingga tinta sulit membasahi permukaannya. Dalam istilah teknis, material tersebut memiliki surface tension atau nilai dyne yang rendah.
Corona treatment bekerja dengan menghasilkan pelepasan listrik tegangan tinggi (high voltage discharge) yang mengubah karakter permukaan film. Proses ini meningkatkan surface energy sehingga tinta dapat menyebar lebih merata dan memiliki daya lekat (adhesion) yang jauh lebih baik.
Tanpa proses ini, tinta hanya menempel secara fisik di permukaan material. Akibatnya, hasil printing mudah tergores, mengelupas, bahkan gagal pada proses laminasi berikutnya.
Kesalahan 1. Mengira Film Baru Selalu Memiliki Dyne Tinggi
Kesalahan pertama yang masih sering ditemui adalah anggapan bahwa film yang baru datang dari supplier pasti masih memiliki nilai dyne sesuai spesifikasi. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Seiring waktu, permukaan film akan mengalami perubahan akibat migrasi additive seperti slip agent, anti blocking agent, maupun antistatic agent. Zat-zat tersebut secara perlahan naik ke permukaan film sehingga nilai dyne menurun. Inilah alasan mengapa banyak converter melakukan Booster Corona Treatment sebelum material masuk ke unit printing.
Dalam praktiknya, kami pernah menemui perusahaan yang langsung menjalankan produksi menggunakan film yang telah disimpan lebih dari enam bulan. Hasilnya, tinta tidak dapat menempel secara sempurna meskipun formulasi tinta dan viskositas sudah sesuai. Setelah dilakukan pengukuran dyne, ternyata nilai permukaannya sudah turun jauh dari standar.
Insight Praktisi
Jangan pernah menganggap semua material siap dicetak hanya karena masih berada dalam kemasan asli. Pemeriksaan dyne level sebelum produksi jauh lebih murah dibandingkan biaya rework ribuan meter material.
Kesalahan 2. Tidak Pernah Mengukur Dyne Level
Masih banyak perusahaan yang hanya mengandalkan pengalaman operator untuk menentukan apakah corona treatment sudah cukup atau belum.
Padahal kondisi setiap material bisa berbeda-beda. Film dari supplier A belum tentu memiliki karakter yang sama dengan supplier B. Bahkan material dari batch yang berbeda pun dapat menunjukkan nilai surface tension yang berbeda.
Tanpa pengukuran menggunakan Dyne Test Pen atau alat ukur dyne lainnya, perusahaan sebenarnya sedang bekerja berdasarkan asumsi.
Akibatnya operator sering melakukan penyesuaian tinta secara terus-menerus, padahal akar masalah sebenarnya berada pada rendahnya surface energy material.
Kesalahan yang sering terjadi
- Langsung menaikkan viskositas tinta.
- Mengganti solvent.
- Mengubah doctor blade.
- Menyetel impression roller.
Padahal masalah utamanya hanyalah nilai dyne yang sudah turun.
Kesalahan 3. Menganggap Semua Material Memerlukan Perlakuan yang Sama
Kesalahan berikutnya adalah memberikan setting corona treatment yang sama untuk seluruh jenis material.
Padahal setiap material memiliki karakteristik yang berbeda.
Sebagai contoh:
- OPP membutuhkan perlakuan berbeda dibanding PET.
- Metallized film memiliki karakter yang berbeda dibanding PE.
- Film transparan berbeda dengan film berlapis coating.
Jika operator menggunakan daya corona yang sama untuk semua material, hasil akhirnya belum tentu optimal.
Corona treatment yang terlalu rendah menyebabkan tinta tidak menempel.
Sebaliknya, treatment yang terlalu tinggi dapat merusak permukaan film dan menimbulkan masalah baru pada proses converting.
Inilah alasan mengapa parameter seperti:
- jenis material
- ketebalan film
- lebar web
- kecepatan mesin
- target dyne
harus menjadi pertimbangan sebelum menentukan setting corona treater.
Kesalahan 4. Mengabaikan Kecepatan Mesin
Semakin tinggi kecepatan mesin rotogravure, semakin singkat waktu material berada di area corona treatment.
Artinya energi yang diterima permukaan material juga ikut berubah.
Sering kali perusahaan menaikkan kecepatan mesin demi mengejar target produksi tanpa melakukan penyesuaian terhadap output corona treater.
Akibatnya nilai dyne yang dihasilkan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan proses printing.
Dalam beberapa kasus, hasil printing pada awal roll terlihat sangat baik, tetapi semakin lama kualitas adhesion tinta mulai menurun. Setelah dilakukan analisis, penyebabnya bukan berasal dari tinta maupun silinder gravure, melainkan karena energi corona tidak lagi mencukupi pada kecepatan produksi yang lebih tinggi.
Insight Lapangan
Setiap peningkatan line speed sebaiknya diikuti dengan evaluasi parameter corona treatment. Jangan hanya fokus pada output mesin, tetapi pastikan kualitas permukaan material tetap memenuhi standar sebelum masuk ke unit printing.
Berikut lanjutan artikel (Bagian 2) agar artikel menjadi lengkap sekitar 1.700–1.800 kata dan tetap menggunakan gaya bahasa praktisi industri.
Kesalahan 5. Tidak Pernah Membersihkan Elektroda Corona Treatment
Banyak perusahaan sudah memiliki Corona Treatment System, namun kurang memperhatikan perawatan rutinnya. Salah satu komponen yang sering diabaikan adalah elektroda (electrode). Padahal, elektroda merupakan bagian utama yang menghasilkan pelepasan listrik (electrical discharge) untuk meningkatkan surface tension pada material.
Seiring waktu, debu, residu tinta, partikel coating, maupun kotoran dari lingkungan produksi dapat menempel pada permukaan elektroda. Kondisi ini menyebabkan distribusi energi corona menjadi tidak merata. Akibatnya, sebagian area film memperoleh perlakuan yang cukup, sementara area lain tidak mendapatkan energi yang memadai.
Dalam praktik di lapangan, kondisi ini sering memunculkan masalah yang sulit didiagnosis. Hasil cetak terlihat baik di bagian tengah web, tetapi mulai muncul masalah adhesion di sisi kiri atau kanan material. Banyak operator mengira penyebabnya berasal dari tinta atau silinder gravure, padahal sumber masalahnya adalah elektroda yang sudah kotor.
Cara mencegahnya
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Membersihkan elektroda secara berkala sesuai jadwal preventive maintenance.
- Memastikan tidak ada residu tinta atau debu yang menempel.
- Memeriksa kondisi isolator dan grounding.
- Mengikuti rekomendasi perawatan dari produsen corona treater.
Perawatan sederhana ini sering kali mampu mengembalikan performa corona treatment tanpa harus mengganti komponen yang mahal.
Kesalahan 6. Posisi Corona Treatment Tidak Tepat
Kesalahan berikutnya sering terjadi saat pemasangan mesin baru atau proses modifikasi line produksi. Beberapa perusahaan memasang corona treater terlalu jauh dari unit printing karena alasan keterbatasan ruang.
Padahal, praktik terbaik di industri menunjukkan bahwa Corona Treatment sebaiknya ditempatkan sebelum unit printing pertama. Tujuannya adalah agar permukaan film yang telah diaktivasi langsung menerima tinta sebelum surface energy kembali menurun akibat kontaminasi udara atau migrasi zat aditif.
Semakin jauh jarak antara corona treatment dan unit printing, semakin besar kemungkinan permukaan material terkontaminasi kembali oleh debu, minyak, atau zat lain yang mengurangi efektivitas proses treatment.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan flexible packaging pernah mengalami masalah tinta yang tidak konsisten menempel pada film OPP. Setelah dilakukan evaluasi, ternyata unit corona dipasang cukup jauh dari printing unit pertama sehingga material telah melewati beberapa roller sebelum dicetak. Setelah posisi sistem diperbaiki, kualitas adhesion tinta meningkat secara signifikan.
Kesalahan 7. Menganggap Film Lama Tidak Perlu Booster Corona Treatment
Inilah kesalahan yang paling sering kami temui di berbagai perusahaan converting.
Banyak operator beranggapan bahwa jika film sudah mendapatkan corona treatment dari pabrik pembuatnya, maka material tersebut dapat langsung digunakan kapan saja. Padahal kenyataannya, nilai dyne tidak bersifat permanen.
Selama proses penyimpanan, berbagai zat tambahan seperti slip additive, antistatic agent, dan lubricant secara perlahan bermigrasi ke permukaan film. Akibatnya, surface tension mengalami penurunan.
Semakin lama material disimpan di gudang, semakin besar kemungkinan nilai dyne turun di bawah standar yang dibutuhkan untuk proses printing maupun laminasi.
Di sinilah pentingnya Booster Corona Treatment. Proses ini dilakukan sesaat sebelum material memasuki unit printing untuk mengembalikan surface energy sehingga tinta dapat menempel dengan optimal.
Perusahaan yang rutin melakukan booster treatment umumnya memiliki tingkat reject lebih rendah dibandingkan perusahaan yang langsung menggunakan material tanpa pemeriksaan ulang.
Dampak Kesalahan Corona Treatment terhadap Produksi
Kesalahan dalam pengaturan corona treatment mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya dapat menjalar ke seluruh proses produksi. Masalah ini tidak hanya memengaruhi hasil printing, tetapi juga proses laminasi, sealing, hingga kualitas produk akhir yang diterima pelanggan.
Beberapa dampak yang paling sering terjadi antara lain:
- Tinta mudah terkelupas saat dilakukan tape test.
- Warna terlihat tidak merata pada permukaan film.
- Laminasi mudah delaminasi karena adhesive tidak melekat sempurna.
- Reject meningkat akibat kualitas cetak tidak memenuhi standar.
- Komplain pelanggan bertambah karena kualitas produk tidak konsisten.
- Biaya produksi meningkat akibat rework dan pemborosan material.
Dalam industri packaging modern, masalah-masalah tersebut dapat dicegah sejak awal apabila perusahaan memiliki sistem corona treatment yang dirancang sesuai kebutuhan line produksi.
Mengapa Banyak Pabrik Besar Menggunakan Booster Corona Treatment?
Perusahaan multinasional umumnya tidak hanya mengandalkan corona treatment yang dilakukan saat proses ekstrusi film. Mereka memahami bahwa karakter permukaan material akan berubah selama penyimpanan dan distribusi.
Karena itu, booster corona treatment telah menjadi bagian dari standar operasional di banyak lini produksi flexible packaging.
Keuntungan yang diperoleh antara lain:
- Nilai dyne lebih stabil sebelum proses printing.
- Adhesion tinta lebih konsisten.
- Proses laminasi lebih kuat.
- Risiko reject berkurang.
- Kualitas produksi lebih mudah dipertahankan.
Investasi pada sistem corona treatment modern sering kali memberikan pengembalian yang lebih cepat dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk menangani produk reject.
Kapan Perusahaan Perlu Mengevaluasi Corona Treatment?
Jika Anda mengalami salah satu kondisi berikut, kemungkinan besar sistem corona treatment perlu diperiksa kembali:
- Hasil tape test sering gagal meskipun formulasi tinta tidak berubah.
- Nilai dyne sering turun tanpa penyebab yang jelas.
- Laminasi mudah terlepas.
- Komplain pelanggan meningkat akibat tinta mudah mengelupas.
- Material berasal dari stok lama yang telah disimpan berbulan-bulan.
- Produksi menggunakan water-based ink yang membutuhkan daya basah lebih tinggi.
Melakukan evaluasi sejak dini jauh lebih efisien dibandingkan menunggu masalah berkembang menjadi reject produksi dalam jumlah besar.
FAQ
Apakah semua jenis film membutuhkan Corona Treatment?
Tidak semuanya, tetapi sebagian besar material seperti PE, PP, OPP, CPP, dan film fleksibel lainnya membutuhkan corona treatment agar tinta, coating, atau adhesive dapat menempel dengan baik.
Berapa nilai dyne yang ideal untuk proses printing?
Nilai yang dibutuhkan bergantung pada jenis material dan tinta yang digunakan. Namun secara umum, proses rotogravure printing membutuhkan surface tension yang cukup tinggi agar tinta dapat membasahi permukaan secara optimal. Pengukuran sebaiknya dilakukan menggunakan dyne test sebelum produksi.
Apakah Booster Corona Treatment wajib dilakukan?
Jika material baru diproduksi dan langsung digunakan, booster treatment mungkin tidak selalu diperlukan. Namun untuk material yang telah disimpan dalam waktu lama atau memiliki indikasi penurunan dyne level, booster corona treatment sangat disarankan untuk menjaga kualitas hasil printing.
Apakah Corona Treatment hanya digunakan untuk rotogravure?
Tidak. Teknologi ini juga banyak digunakan pada proses flexographic printing, laminating, coating, extrusion coating, hingga berbagai proses converting lainnya yang membutuhkan peningkatan daya lekat pada permukaan material.
Kesimpulan
Corona treatment sering dianggap sebagai proses pendukung dalam lini produksi rotogravure. Padahal, kualitas hasil printing sangat bergantung pada keberhasilan proses ini dalam meningkatkan surface tension material sebelum tinta diaplikasikan.
Tujuh kesalahan yang telah dibahas di atas menunjukkan bahwa masalah seperti tinta mudah mengelupas, laminasi gagal, hingga meningkatnya reject produksi sering kali bukan disebabkan oleh tinta atau mesin printing, melainkan karena proses corona treatment yang kurang optimal.
Kesalahan seperti tidak mengukur dyne level, mengabaikan kebersihan elektroda, hingga tidak melakukan booster treatment pada film lama masih banyak ditemukan di industri.
Dengan memahami cara kerja corona treatment dan melakukan evaluasi secara berkala, perusahaan dapat menjaga kualitas hasil cetak tetap konsisten, mengurangi pemborosan material, serta meningkatkan kepercayaan pelanggan. Langkah ini bukan hanya membantu menekan biaya produksi, tetapi juga mendukung daya saing perusahaan di industri flexible packaging yang semakin kompetitif.